Sejarah berdirinya Candi Borobudur
Sejarah candi Borobudur
Asal usul Candi
Borobudur
Borobudur
merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta
berarti... kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur
yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit.
Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras
(budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang
terletak di tempat tinggi
Bangunan-bangunan kuno yang berasal dari jaman purba Sejarah
Indonesia (permulaan tarikh Masehi sampai akhir abad 15 biasanya disebut candi
sebagian besar dari candi-candi itu tidak diketahui nama aslinya.Cacndi-candi
memang harus ditemukan dulu,sebelum dimasukan ke dalam khasanah pusaka budaya kita
juga banyak candi-candi yang diberi nama sama seperti desa dimana candi itu
berada.Tetapi ada juga desa yang diberi nama menurut candinya.Hanya satu dua
candi yang masih menyimpan nama aslinya.Candi Borobudur sebdiri sulitlah
ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari desa ataukah nama desa yang
mengambil dari nama candi tersebut.
Dari babad(kitab sejarah Jawa )dari abad ke -18 tersebut
“BUKIT BOROBUDUR”,sedang keterangan yang diambil oleh Rafles dalam tahun 1814
di desa Bumi Segoro menyatakan adannya sebuah penemuan-penemuan purbakala
bernama “BOROBUDUR”.Dengan penemuan itu maka dapat disimpulkan bahwa nama
Borobudur adalah nama asli dari bangunan candinya .Walaupun demiian perlu
dicatat bahwa tidak ada satupun keterangan,baik prasasti maupun dokumen lain
yang mengungkapkan nama asli dari candi Borobudur yang sesungguhnya
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk
mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat
pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis
memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra
bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M
Candi Borobudur
dibangun oleh Raja Smaratungga salah satu raja kerajaan Mataram kuno dari
dinasti Syailendra pada abad ke-8. Menurut legenda Candi Borobudur dibangun
oleh seorang arsitek bernama Gunadharma, namun kebenaran berita tersebut secara
hirtoris belum diketahui secara pasti.
Bangunan raksasa itu
baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan
Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah
pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī
Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut
Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti
tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur
dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra
dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh
tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur
Kalau kita lihat
dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau
semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan
Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan
piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan
di daerah dan negara manapun.
Sedangkan ketika
dilihat dari udara, bentuk Candi Borobudur mirip dengan teratai. Teratai memang
salah satu dari simbol-simbol yang dipakai dalam penghormatan (puja) agama
Buddha, melambangkan kesucian, mengingatkan umat Buddha untuk senantiasa
menjaga pikiran dan hati tetap bersih meski berada di lingkungan yang tidak
bersih.
Tahun 1930-an W.O.J.
Nieuwenkamp pernah memberikan khayalan ilmiah terhadap Candi Borobudur.
Didukung penelitian geologi, Nieuwenkamp mengatakan bahwa Candi Borobudur
bukannya dimaksud sebagai bangunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang
mengapung di atas danau. Danau yang sekarang sudah kering sama sekali, dulu
meliputi sebagian dari daerah dataran Kedu yang terhampar di sekitar bukit
Borobudur. Foto udara daerah Kedu memang memberi kesan adanya danau yang amat
luas di sekeliling Candi Borobudur.
Menurut kitab-kitab
kuno, sebuah candi didirikan di sekitar tempat bercengkeramanya para dewa.
Puncak dan lereng bukit, daerah kegiatan gunung berapi, dataran tinggi, tepian
sungai dan danau, dan pertemuan dua sungai dianggap menjadi lokasi yang baik
untuk pendirian sebuah candi.
Yang menarik dari
Candi Borobudur adalah nama arsiteknya, yang bernama Gunadharma. Tapi siapakah
Gunadharma?
Tidak ada catatan sejarah mengenai tokoh bernama Gunadharma ini. Diperkirakan Gunadharma merupakan simbol dari nama seseorang yang punya intelektual luar biasa. Ada anggapan bahwa Candi Borobudur dibangun dengan bantuan 'makhluk lain'.
Tidak ada catatan sejarah mengenai tokoh bernama Gunadharma ini. Diperkirakan Gunadharma merupakan simbol dari nama seseorang yang punya intelektual luar biasa. Ada anggapan bahwa Candi Borobudur dibangun dengan bantuan 'makhluk lain'.
Bahan dasar penyusun
Candi Borobudur adalah batuan yang mencapai ribuan meter kubik jumlahnya.
Sebuah batu beratnya ratusan kilogram. Hebatnya, untuk merekatkan batu tidak
digunakan semen. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni batu atas-bawah,
kiri-kanan, dan belakang-depan. Bila dilihat dari udara, maka bentuk Candi
Borobudur dan arca-arcanya relatif simetris. Kehebatan lain, di dekat Candi
Borobudur terdapat Candi Mendut dan Candi Pawon. Ternyata Borobudur, Mendut,
dan Pawon jika ditarik garis khayat, berada dalam satu garis lurus.
Candi Borobudur
merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa
Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno,
keturunan Wangsa Syailendra.. Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak
terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum
direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah
digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa
Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan
tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang
berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.
Uraian Bentuk Bangunan
Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan di
dalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi .Maka
lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu dianggap sebagai bangunan ziarah
bukan sebagai tempat pemujaan agama Budha
Sesungguhnya adanya
jenjang-jenjang dan lorong-lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu
para peziarah untuk menuju puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ke
tingkat berikutnya
Perjalanan setingkat
demi setingkat sesuai benar ajaran dengan aliran budha yang memang sangat
mementingkan adanya tingkatan dalam persiapan mental para penganutnya yang
setia.Melalui tingkatan,tingkatan itulah tujuan akhir dari perjalanan manusia
dapat tercapai.Yaitu terlepasnya secara mutlak dari ikatan duniawi dan dapat
bebas secara mutlak dari kelahiran kembali
Adapun Tingkatan-Tingkatan
itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi tiga
dunia
Dunia paling bawah
KAMADHATU : Dunia hasrat.Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada
hasrat bahkan dikuasai oleh
hasrat.Realief ini terdapat pada kaki candi bangunan asli
RUPADHATU : Dunia rupa.Dalam tingkatan ini manusia telah meninggalkan segala
hasratnya tetapi masih terikat pada nama dan rupa.Bagian ini terdapat pada
langkan 1-5
ARUPHADATU : Dunia tanpa rupa.Dalam tingkatan ini sudah tidak ada sama sekali
nama ataupun rupa.Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk
selama lamanya dari segala ikatan kepada dunia fana
Benda Peninggalan Candi Borobudur
Patung
Patung Budha
Di dalam bangunan
Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai
berikut: Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah Sedangkan
pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah Jumlah : 504 Buah.Agar lebih
jelas susunan-susunan patung Budha sebagai berikut
Langkah I Teradapat
: 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104
Patung Budha 3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha 4.
Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung
Budha 6.
Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24
Patung Budha 8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah
: 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha
itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya perbedaan
yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap
tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap
tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh
karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan
Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada
umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5
kelima mudra itu adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra,
Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra
Patung singa
Pada Candi Borobudur
selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya
tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya
berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada
halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga
bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.
Stupa
Stupa Induk
Berukuran lebih
besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas
yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis
tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti
Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika
Stupa Terawang atau Berlubang
Yang dimaksud stupa
berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana
di dalamnya terdapat patung Budha. Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang
seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa Jumlah
72 Stupa
Stupa kecil
Stupa kecil
berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang
menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah
menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung –
relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa
Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
Realief
Di setiap tingkatan
dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah
jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari
bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini
bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu
gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir
di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur
adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya
bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi,
relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan
hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial),
tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi
sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan
tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga
perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran
kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak
pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri
untuk menuju kesempurnaan
Lalitawistara
Merupakan
penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan
merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari
sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota
Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah
melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.
Ke-27 pigura
tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai
persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku
calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada
ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari
Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan
wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda
Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum",
sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita
tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya
merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa
dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik
merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana,
pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang
Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab
Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau
seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana,
diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa
dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah
Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup
dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuna
Merupakan deretan
relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa
mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran
Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab
suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya
berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
Archa Budha
Selain wujud buddha
dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak
arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap
tangan simbolis tertentu.
Patung buddha dalam relung-relung di tingkat
Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya
semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari
104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72
relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di
tingkat Rupadhatu. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca
Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran
melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran
ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.
Dari jumlah asli
sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala)
dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai
barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).
Secara sepintas
semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus
diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur,
Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas
menurut ajaran Mahayana.
Keempat pagar langkan memiliki empat mudra:
Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang
menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar
langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas
menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima
Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri

Komentar
Posting Komentar